Jumat, 29 Agustus 2025

The Problem of Evil: Mengapa Tuhan Membiarkan Kejahatan?

Berdasarkan pendekatan argumen filosofis (The Problem of Evil), argumen yang mendukung keberadaan Tuhan dalam teisme dianggap oleh sebagian kalangan memiliki titik kelemahan, karena lebih banyak bukti yang bertolak belakang dengan sifatnya yang maha baik dan maha pengasih. alam semesta terlihat sama sekali tidak peduli dengan penderitaan yang terjadi pada makhluk hidup. tidak peduli dengan baik dan buruk, sakit dan senang, atau sesuatu yang bernilai dan tidak bernilai.

kita tidak melihat adanya campur tangan tuhan didalam DNA atau sel-sel yang ada pada makhluk hidup. kita juga tidak melihat peristiwa aneh yang melanggar hukum alam yang biasa di sebut mukjizat. justru yang kita lihat adalah ketidak hadiran tuhan dalam beberapa aspek, seperti binatang yang terbakar hidup-hidup didalam hutan, anak-anak yang meninggal karena kanker, atau kekejaman manusia yang tidak terbayang.

argumen the problem of evil dapat menjadi bukti bahwa eksistensi tuhan yang maha kuasa dan maha pengasih dapat diragukan keberadaanya. karena tuhan teisme adalah tuhan yang maha baik, maka keberadaanya tidak bisa dipisahkan dari pertimbangan moral. sehingga ketika kita menilai dunia yang kita tempati ini, apakah memenuhi ekspektasi adanya tuhan yang maha baik atau tidak?

kalau tuhan itu benar-benar maha pengasih dan maha baik, maka dunia ini, dunia yang kita lihat dan dunia yang kita pelajari di sekolah adalah ciptaan-Nya. maka pandangan kita terhadap kebaikan akan mempengaruhi cara kita dalam menilai eksistensi tuhan teisme.

jumlah, jenis, dan tingkat penyebaran kebahagiaan atau penderitaan di dunia ini selalu acuh tak acuh. Paul Draper pernah membuktikan ini pada tahun 1980an. ini menunjukan kecilnya peluang keberadaan tuhan yang maha baik dan maha pengasih. ini juga menunjukan bahwa kepercayaan terhadap tuhan yang demikian itu akan terasa "salah" karena secara tidak langsung memberikan persetujuan atas penderitaan yang ada di dunia ini. 

Jadi, seolah-olah teisme menuntut kita untuk menyetujui adanya penderitaan, meskipun jelas penderitaan itu tidak akan pernah disetujui oleh orang yang mengalaminya. Teisme seperti meminta terlalu banyak: ia mengharuskan kita untuk mengkhianati semua makhluk yang menderita tanpa alasan. Kalau kita mengakui kebenaran teisme, berarti kita bukan hanya membuat pernyataan fakta, tapi juga membuat penilaian moral.

ketika kita menyatakan bahwa tuhan yang maha baik itu ada, maka kita juga harus mengamini tindakan tuhan yang membiarkan setiap penderitaan yang pernah terjadi didunia ini, meskipun ia bisa mencegahnya. kita juga harus mengakui bahwasanya ada penderitaan mutlak yang dibenarkan oleh tuhan. maka dengan demikian seorang teis yang dikenal bermoral, harus mengakui adanya penderitaan mutlak yang diizinkan oleh tuhan, sementara ateis diberi kebebasan untuk menolak penilaian moral tadi.

mereka percaya bahwa kepercayaan terhadap tuhan tidak dapat dipisahkan dari penilaian moral. meskipun seseorang yang percaya kepada tuhan tidak berani mengatakan bahwa bayi yang terbakar hidup-hidup tidak boleh terjadi, mereka tetap akan merasa bahwa penderitaan yang semacam itu tidak boleh dibiarkan oleh sosok tuhan yang maha baik. tetapi untuk menjaga citra tuhan yang maha baik, seorang teis harus mempercayai bahwa pasti ada alasan yang baik dibalik mengapa tuhan membiarkan bayi terbakar hidup-hidup, meskipun mereka tidak mengetahui alasannya.

akhirnya, kepercayaan terhadap tuhan merupakan semacam persetujuan atas penderitaan yang ada di dunia ini. mengapa kita harus memberi persetujuan itu? itu terasa seperti sebuah pengkhianatan. kita misalnya, harus mengatakan kepada bayi yang terbakar itu "tidak apa-apa jika kamu terbakar hidup-hidup, rasa sakitmu bukanlah hal yang sia-sia karena itu adalah bagian kecil dari rencana besar yang justru lebih bernilai karena pengorbananmu." tentu saja ini terasa konyol bagi banyak orang. 

aku tidak bisa melakukan itu. kita tidak tega mengkhianati bayi yang terbakar hidup-hidup atau binatang yang kulitnya dirobek oleh mangsanya. aku semakin percaya bahwa tatanan alam semesta ini memang tidak dirancang oleh tuhan yang maha baik dan maha pengasih. Pada akhirnya, teisme membatasi seberapa besar seseorang bisa benar-benar peduli terhadap penderitaan dunia.

Sayangnya, banyak orang beragama tidak benar-benar menghargai fakta ini. kita lebih sering mendengar jawaban-jawaban enteng dan tidak serius tentang penderitaan, ketimbang pengakuan jujur bahwa ini memang masalah serius. banyak usaha para teolog untuk menjelaskan “penderitaan” terasa dangkal, seolah mereka menutup mata pada kenyataan. Seolah-olah Tuhan hanya diam, tidak mencegah penderitaan yang sebenarnya bisa dihindari dengan sedikit perubahan dalam cara manusia diciptakan.

Kalau kita menyepelekan masalah kejahatan dan penderitaan, berarti kita sedang kehilangan rasa moral yang paling dasar. Itu menunjukkan betapa keyakinan bisa merusak kepekaan moral kita. Ketika seseorang bisa menertawakan penderitaan hewan atau mengabaikan orang yang berdebat dengan pertanyaan tentang penderitaan, itu tanda bahwa moralitasnya sudah tumpul.

 

Senin, 25 Agustus 2025

Tuhan Di Dalam Al Qur'an Yang Suka Mengintervensi Alam Semesta

 Manusia purba memiliki pengetahuan yang sangat sedikit mengenai fenomena alam dan sebab akibat di balik fenomena alam. Bagaimana matahari terbit bisa dan bisa terbenam? Bagaimana langit dapat mengeluarkan kilatan dan suara yang keras? Bagaimana air bisa turun dari langit? jadi wajar saja bila manusia purba menganggap hal-hal tadi sebagai sebuah keajaiban dan selalu mengaitkannya dengan sosok yang maha tinggi dan maha kuasa.

mereka percaya tuhanlah yang melakukan semua ini, mereka berusaha mencari bantuan dari sosok yang berkuasa atas alam semesta ini dengan persembahan kecil agar mereka selalu diberikan kehidupan yang makmur. mereka mengorbankan harta benda yang dimilikinya bahkan rela mengorbankan nyawa manusia demi menyenangkan tuhan mereka. 

nampak sekali bahwa tuhan yang mereka percayai ini secara langsung dapat ikut campur dalam mengendalikan unsur-unsur, entah itu mengirimkannya atau menahannya tergantung pada kondisinya yang sedang senang atau marah. bila mana mereka berhasil membuat tuhannya senang, maka dia akan menurunkan hujan agar tanaman tumbuh subur, dan hewan ternak melimpah. namun apabila tuhannya sedang marah, dia akan mengirimkan banjir, kekeringan, atau angin badai yang bertiup kencang yang dapat menyapu tanaman dan mematikan hewan ternak mereka. seperti itulah manusia purba selama ribuan tahun melihat bagaimana cara alam bekerja. 

Di dalam Al-Qur'an juga menceritakan tuhan yang seperti itu, keberhasilan bisa dicapai dengan menyenangkannya, dengan mematuhinya, membungkuk kepada-Nya, atau bersujud kepada-Nya. dia dapat menurunkan hujan kepada siapapun yang ia kehendaki. 


"Lalu, Kami membukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Kami pun menjadikan bumi menyemburkan banyak mata air. Maka, berkumpullah semua air itu sehingga (meluap dan menimbulkan) bencana yang telah ditetapkan." 2 : 11-12

"Masing-masing (dari mereka) Kami azab karena dosanya. Di antara mereka ada yang Kami timpakan angin kencang (yang mengandung) batu kerikil, ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula yang Kami tenggelamkan".  29;40

"Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu". 3;26

tidak ada hal didunia ini yang bangkir maupun jatuh , bergerak maupun diam kecuali melalui keterlibatannya. namun salah satu dari banyak alasan manusia di zaman modern ini yang meragukan agama mereka itu karena mereka sudah mengetahui bagaimana cara hukum alam mengatur hal-hal ini. mereka mengetahui bagaimana gempa terjadi atau bagaimana tsunami dapat terjadi. bahkan mereka bisa memprediksi kapan terjadi hujan, badai, atau kekeringan. mereka bisa memperhitungkan pola-pola ini dan mengamati pola sebab dan akibat. mereka bisa memanfaatkan angin dan air untuk menghasilkan energi yang menguntungkan. mereka tidak pernah melihat hukum alam yang dilanggar tidak pula melihat campur tangan dari ilahi seperti dalam kitab suci. 

tidak ada manfaatnya bagi mereka yang berdoa dan tidak ada konsekuensi negatif bagi mereka yang tidak berdoa. alam akan selalu bekerja sesuai hukumnya atau sebagaimana adanya. Gempa atau tsunami sering muncul di daerah-daerah sekitar cincin api pasifik bukan di daerah dimana orang kafir tinggal.  baik orang kafir maupun orang beriman mengetahui bahwa tidak ada fenomena yang melanggar hukum alam di dunia nyata. 

mundur jauh kebelakang, banyak para teolog telah menggeser sifat ketuhanan dari tuhan yang suka mengintervensi alam semesta dengan melakukan mukjizat menuju konsep tuhan yang imanen dan transenden yang bekerja secara tidak langsung dan secara misterius. itu tampak baik dan bagus tetapi itu bukan gambaran yang disampaikan didalam Al-Qur'an. Al-Quran menarasikan bahwa tuhan seringkali mengintervensi alam semesta dengan kejadian yang besar seperti yang telah diceritakan. Dimana dia diceritakan mengirim banjir, gempa, dan tsunami kepada mereka yang tidak beriman kepada-Nya. 

"Tidakkah mereka perhatikan betapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Kami binasakan? (Yaitu) generasi yang telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yang belum pernah Kami lakukan kepada kamu; dan Kami curahkan air hujan yang lebat, Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka; lalu Kami binasakan mereka karena dosa-dosa mereka, selanjutnya Kami munculkan sesudah mereka generasi lain." 6;6

 intervensi tuhan di dalam Al-Quran seringkali dikutip sebagai tanda (ayah) dan sebagai bukti kekuasaannya dan kekuatannya atas segala yang terjadi. orang-orang Makkah terus meminta Nabi Muhammad untuk menunjukan mukjizat dihadapan mereka. mereka telah mendengar cerita-cerita terdahulu dimana seorang nabi melakukan mukjizat, jadi wajar saja jika mereka meminta Muhammad menunjukan mukjizatnya.

"Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Nabi Muhammad) suatu bukti (mukjizat) dari Tuhannya?” 6;37

Namun Al-Quran malah menjawabnya dengan sebuah fenomena alam yang biasa saja, seperti

"Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dapat terbang di angkasa dengan mudah. Tidak ada yang menahannya selain Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang beriman." 16;79

 Ya memang Allah yang menahan burung-burung itu meskipun secara tidak langsung melalui aerodinamika aliran udara dan hasil evolusi jutaan tahun. Banyak sekali muslim yang berkata "tetap saja Allah lah yang menciptakan hukum alam tersebut. tetapi jujur saja, jawaban yang Al-Quran berikan itu sangat mengecewakan. Orang-orang Makkah mengharapkan mukjizat yang lebih besar dan mengesankan mereka seperti cerita nabi-nabi di masa lalu. mengatakan "lihatlah burung-burung yang terbang itu" bukanlah hal yang sama seperti cerita-cerita mukjizat besar zaman dahulu. 

tidakkah penulis Al Quran mengetahui bahwa orang-orang di masa depan akan mengetahui bagaimana cara burung terbang dan bahkan sekarang mereka bisa terbang dengan pesawat, apakah itu sesuatu yang mengherankan? lalu mengapa Al-Quran menganggap burung terbang sebagai tanda keajaiban?

hal lain yang Al Quran  sampaikan adalah berjalanlah di bumi dan lihatlah sendiri bagaimana tuhan pernah ikut campur dalam membinasakan orang-orang kafir.

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jelajahilah bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” 6;11

ini membuat kita bingung apa yang sebenarnya Al Quran ingin kita lihat? akhir kehidupan orang-orang kafir tidak ada bedanya dengan orang-orang muslim, bahkan ada orang kafir yang akhir hayatnya lebih baik daripada orang muslim. bagaimana seseorang bisa mengetahui siapa yang menghancurkan sebuah kota kuno yang sudah terkubur didalam tanah? apa bukti klaim dari Al Quran itu?

Apakah kamu merasa aman dari kemungkinan Dia akan membenamkan sebagian daratan bersama kamu atau mengirimkan kerikil, lalu kamu tidak akan mendapati seorang pun sebagai pelindung? Ataukah kamu merasa aman bahwa Dia tidak akan mengembalikanmu ke laut sekali lagi, lalu mengirimkan angin topan kepadamu dan menenggelamkanmu disebabkan kekufuranmu? 17 ; 68-69

 tetapi apakah orang-orang kafir ditelan oleh gempa bumi dan angin topan atau apakah bencana alam semacam itu juga menimpa seluruh manusia tidak peduli mereka kafir atau bukan? tetapi faktanya justru banyak negara-negara muslim sekarang yang paling menderita dari bencana alam atau peperangan dikarenakan kurangnya teknologi untuk mencegah jumlah korban yang berjatuhan.

 Apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari siksa Kami yang datang pada malam hari ketika mereka sedang tidur? 7;97


Banyak ayat-ayat di dalam Al Quran yang berisi ancaman. Tanpa malu-malu Al Quran seringkali menggunakan narasi ancaman untuk mengeksploitasi kondisi manusia yang rentan terhadap ketakutan untuk memaksa pembacanya menerima Islam.  Tampaknya sama sekali tidak peduli bahwa keimanan yang didapat melalui rasa takut sepenuhnya merusak citra tuhan yang maha bijaksana dan maha pengasih. ini juga menimbulkan pertanyaan mengapa tuhan memerlukan ancaman untuk membuat seseorang percaya jika itu jelas kebenarannya?

The Problem of Evil: Mengapa Tuhan Membiarkan Kejahatan?

Berdasarkan pendekatan argumen filosofis (The Problem of Evil), argumen yang mendukung keberadaan Tuhan dalam teisme dianggap oleh sebagian ...