Manusia purba memiliki pengetahuan yang sangat sedikit mengenai fenomena alam dan sebab akibat di balik fenomena alam. Bagaimana matahari terbit bisa dan bisa terbenam? Bagaimana langit dapat mengeluarkan kilatan dan suara yang keras? Bagaimana air bisa turun dari langit? jadi wajar saja bila manusia purba menganggap hal-hal tadi sebagai sebuah keajaiban dan selalu mengaitkannya dengan sosok yang maha tinggi dan maha kuasa.
mereka percaya tuhanlah yang melakukan semua ini, mereka berusaha mencari bantuan dari sosok yang berkuasa atas alam semesta ini dengan persembahan kecil agar mereka selalu diberikan kehidupan yang makmur. mereka mengorbankan harta benda yang dimilikinya bahkan rela mengorbankan nyawa manusia demi menyenangkan tuhan mereka.
nampak sekali bahwa tuhan yang mereka percayai ini secara langsung dapat ikut campur dalam mengendalikan unsur-unsur, entah itu mengirimkannya atau menahannya tergantung pada kondisinya yang sedang senang atau marah. bila mana mereka berhasil membuat tuhannya senang, maka dia akan menurunkan hujan agar tanaman tumbuh subur, dan hewan ternak melimpah. namun apabila tuhannya sedang marah, dia akan mengirimkan banjir, kekeringan, atau angin badai yang bertiup kencang yang dapat menyapu tanaman dan mematikan hewan ternak mereka. seperti itulah manusia purba selama ribuan tahun melihat bagaimana cara alam bekerja.
Di dalam Al-Qur'an juga menceritakan tuhan yang seperti itu, keberhasilan bisa dicapai dengan menyenangkannya, dengan mematuhinya, membungkuk kepada-Nya, atau bersujud kepada-Nya. dia dapat menurunkan hujan kepada siapapun yang ia kehendaki.
"Lalu, Kami membukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Kami pun menjadikan bumi menyemburkan banyak mata air. Maka, berkumpullah semua air itu sehingga (meluap dan menimbulkan) bencana yang telah ditetapkan." 2 : 11-12
"Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu". 3;26
tidak ada hal didunia ini yang bangkir maupun jatuh , bergerak maupun diam kecuali melalui keterlibatannya. namun salah satu dari banyak alasan manusia di zaman modern ini yang meragukan agama mereka itu karena mereka sudah mengetahui bagaimana cara hukum alam mengatur hal-hal ini. mereka mengetahui bagaimana gempa terjadi atau bagaimana tsunami dapat terjadi. bahkan mereka bisa memprediksi kapan terjadi hujan, badai, atau kekeringan. mereka bisa memperhitungkan pola-pola ini dan mengamati pola sebab dan akibat. mereka bisa memanfaatkan angin dan air untuk menghasilkan energi yang menguntungkan. mereka tidak pernah melihat hukum alam yang dilanggar tidak pula melihat campur tangan dari ilahi seperti dalam kitab suci.
tidak ada manfaatnya bagi mereka yang berdoa dan tidak ada konsekuensi negatif bagi mereka yang tidak berdoa. alam akan selalu bekerja sesuai hukumnya atau sebagaimana adanya. Gempa atau tsunami sering muncul di daerah-daerah sekitar cincin api pasifik bukan di daerah dimana orang kafir tinggal. baik orang kafir maupun orang beriman mengetahui bahwa tidak ada fenomena yang melanggar hukum alam di dunia nyata.
mundur jauh kebelakang, banyak para teolog telah menggeser sifat ketuhanan dari tuhan yang suka mengintervensi alam semesta dengan melakukan mukjizat menuju konsep tuhan yang imanen dan transenden yang bekerja secara tidak langsung dan secara misterius. itu tampak baik dan bagus tetapi itu bukan gambaran yang disampaikan didalam Al-Qur'an. Al-Quran menarasikan bahwa tuhan seringkali mengintervensi alam semesta dengan kejadian yang besar seperti yang telah diceritakan. Dimana dia diceritakan mengirim banjir, gempa, dan tsunami kepada mereka yang tidak beriman kepada-Nya.
"Tidakkah mereka perhatikan betapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Kami binasakan? (Yaitu) generasi yang telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yang belum pernah Kami lakukan kepada kamu; dan Kami curahkan air hujan yang lebat, Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka; lalu Kami binasakan mereka karena dosa-dosa mereka, selanjutnya Kami munculkan sesudah mereka generasi lain." 6;6
intervensi tuhan di dalam Al-Quran seringkali dikutip sebagai tanda (ayah) dan sebagai bukti kekuasaannya dan kekuatannya atas segala yang terjadi. orang-orang Makkah terus meminta Nabi Muhammad untuk menunjukan mukjizat dihadapan mereka. mereka telah mendengar cerita-cerita terdahulu dimana seorang nabi melakukan mukjizat, jadi wajar saja jika mereka meminta Muhammad menunjukan mukjizatnya.
"Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Nabi Muhammad) suatu bukti (mukjizat) dari Tuhannya?” 6;37
Namun Al-Quran malah menjawabnya dengan sebuah fenomena alam yang biasa saja, seperti
"Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dapat terbang di angkasa dengan mudah. Tidak ada yang menahannya selain Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang beriman." 16;79
Ya memang Allah yang menahan burung-burung itu meskipun secara tidak langsung melalui aerodinamika aliran udara dan hasil evolusi jutaan tahun. Banyak sekali muslim yang berkata "tetap saja Allah lah yang menciptakan hukum alam tersebut. tetapi jujur saja, jawaban yang Al-Quran berikan itu sangat mengecewakan. Orang-orang Makkah mengharapkan mukjizat yang lebih besar dan mengesankan mereka seperti cerita nabi-nabi di masa lalu. mengatakan "lihatlah burung-burung yang terbang itu" bukanlah hal yang sama seperti cerita-cerita mukjizat besar zaman dahulu.
tidakkah penulis Al Quran mengetahui bahwa orang-orang di masa depan akan mengetahui bagaimana cara burung terbang dan bahkan sekarang mereka bisa terbang dengan pesawat, apakah itu sesuatu yang mengherankan? lalu mengapa Al-Quran menganggap burung terbang sebagai tanda keajaiban?
hal lain yang Al Quran sampaikan adalah berjalanlah di bumi dan lihatlah sendiri bagaimana tuhan pernah ikut campur dalam membinasakan orang-orang kafir.
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jelajahilah bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” 6;11
ini membuat kita bingung apa yang sebenarnya Al Quran ingin kita lihat? akhir kehidupan orang-orang kafir tidak ada bedanya dengan orang-orang muslim, bahkan ada orang kafir yang akhir hayatnya lebih baik daripada orang muslim. bagaimana seseorang bisa mengetahui siapa yang menghancurkan sebuah kota kuno yang sudah terkubur didalam tanah? apa bukti klaim dari Al Quran itu?
Apakah kamu merasa aman dari kemungkinan Dia akan membenamkan sebagian daratan bersama kamu atau mengirimkan kerikil, lalu kamu tidak akan mendapati seorang pun sebagai pelindung? Ataukah kamu merasa aman bahwa Dia tidak akan mengembalikanmu ke laut sekali lagi, lalu mengirimkan angin topan kepadamu dan menenggelamkanmu disebabkan kekufuranmu? 17 ; 68-69
tetapi apakah orang-orang kafir ditelan oleh gempa bumi dan angin topan atau apakah bencana alam semacam itu juga menimpa seluruh manusia tidak peduli mereka kafir atau bukan? tetapi faktanya justru banyak negara-negara muslim sekarang yang paling menderita dari bencana alam atau peperangan dikarenakan kurangnya teknologi untuk mencegah jumlah korban yang berjatuhan.
Apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari siksa Kami yang datang pada malam hari ketika mereka sedang tidur? 7;97
Banyak ayat-ayat di dalam Al Quran yang berisi ancaman. Tanpa malu-malu Al Quran seringkali menggunakan narasi ancaman untuk mengeksploitasi kondisi manusia yang rentan terhadap ketakutan untuk memaksa pembacanya menerima Islam. Tampaknya sama sekali tidak peduli bahwa keimanan yang didapat melalui rasa takut sepenuhnya merusak citra tuhan yang maha bijaksana dan maha pengasih. ini juga menimbulkan pertanyaan mengapa tuhan memerlukan ancaman untuk membuat seseorang percaya jika itu jelas kebenarannya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar