Berdasarkan pendekatan argumen filosofis (The Problem of Evil), argumen yang mendukung keberadaan Tuhan dalam teisme dianggap oleh sebagian kalangan memiliki titik kelemahan, karena lebih banyak bukti yang bertolak belakang dengan sifatnya yang maha baik dan maha pengasih. alam semesta terlihat sama sekali tidak peduli dengan penderitaan yang terjadi pada makhluk hidup. tidak peduli dengan baik dan buruk, sakit dan senang, atau sesuatu yang bernilai dan tidak bernilai.
kita tidak melihat adanya campur tangan tuhan didalam DNA atau sel-sel yang ada pada makhluk hidup. kita juga tidak melihat peristiwa aneh yang melanggar hukum alam yang biasa di sebut mukjizat. justru yang kita lihat adalah ketidak hadiran tuhan dalam beberapa aspek, seperti binatang yang terbakar hidup-hidup didalam hutan, anak-anak yang meninggal karena kanker, atau kekejaman manusia yang tidak terbayang.
argumen the problem of evil dapat menjadi bukti bahwa eksistensi tuhan yang maha kuasa dan maha pengasih dapat diragukan keberadaanya. karena tuhan teisme adalah tuhan yang maha baik, maka keberadaanya tidak bisa dipisahkan dari pertimbangan moral. sehingga ketika kita menilai dunia yang kita tempati ini, apakah memenuhi ekspektasi adanya tuhan yang maha baik atau tidak?
kalau tuhan itu benar-benar maha pengasih dan maha baik, maka dunia ini, dunia yang kita lihat dan dunia yang kita pelajari di sekolah adalah ciptaan-Nya. maka pandangan kita terhadap kebaikan akan mempengaruhi cara kita dalam menilai eksistensi tuhan teisme.
jumlah, jenis, dan tingkat penyebaran kebahagiaan atau penderitaan di dunia ini selalu acuh tak acuh. Paul Draper pernah membuktikan ini pada tahun 1980an. ini menunjukan kecilnya peluang keberadaan tuhan yang maha baik dan maha pengasih. ini juga menunjukan bahwa kepercayaan terhadap tuhan yang demikian itu akan terasa "salah" karena secara tidak langsung memberikan persetujuan atas penderitaan yang ada di dunia ini.
Jadi, seolah-olah teisme menuntut kita untuk menyetujui adanya penderitaan, meskipun jelas penderitaan itu tidak akan pernah disetujui oleh orang yang mengalaminya. Teisme seperti meminta terlalu banyak: ia mengharuskan kita untuk mengkhianati semua makhluk yang menderita tanpa alasan. Kalau kita mengakui kebenaran teisme, berarti kita bukan hanya membuat pernyataan fakta, tapi juga membuat penilaian moral.
ketika kita menyatakan bahwa tuhan yang maha baik itu ada, maka kita juga harus mengamini tindakan tuhan yang membiarkan setiap penderitaan yang pernah terjadi didunia ini, meskipun ia bisa mencegahnya. kita juga harus mengakui bahwasanya ada penderitaan mutlak yang dibenarkan oleh tuhan. maka dengan demikian seorang teis yang dikenal bermoral, harus mengakui adanya penderitaan mutlak yang diizinkan oleh tuhan, sementara ateis diberi kebebasan untuk menolak penilaian moral tadi.
mereka percaya bahwa kepercayaan terhadap tuhan tidak dapat dipisahkan dari penilaian moral. meskipun seseorang yang percaya kepada tuhan tidak berani mengatakan bahwa bayi yang terbakar hidup-hidup tidak boleh terjadi, mereka tetap akan merasa bahwa penderitaan yang semacam itu tidak boleh dibiarkan oleh sosok tuhan yang maha baik. tetapi untuk menjaga citra tuhan yang maha baik, seorang teis harus mempercayai bahwa pasti ada alasan yang baik dibalik mengapa tuhan membiarkan bayi terbakar hidup-hidup, meskipun mereka tidak mengetahui alasannya.
akhirnya, kepercayaan terhadap tuhan merupakan semacam persetujuan atas penderitaan yang ada di dunia ini. mengapa kita harus memberi persetujuan itu? itu terasa seperti sebuah pengkhianatan. kita misalnya, harus mengatakan kepada bayi yang terbakar itu "tidak apa-apa jika kamu terbakar hidup-hidup, rasa sakitmu bukanlah hal yang sia-sia karena itu adalah bagian kecil dari rencana besar yang justru lebih bernilai karena pengorbananmu." tentu saja ini terasa konyol bagi banyak orang.
aku tidak bisa melakukan itu. kita tidak tega mengkhianati bayi yang terbakar hidup-hidup atau binatang yang kulitnya dirobek oleh mangsanya. aku semakin percaya bahwa tatanan alam semesta ini memang tidak dirancang oleh tuhan yang maha baik dan maha pengasih. Pada akhirnya, teisme membatasi seberapa besar seseorang bisa benar-benar peduli terhadap penderitaan dunia.
Sayangnya, banyak orang beragama tidak benar-benar menghargai fakta ini. kita lebih sering mendengar jawaban-jawaban enteng dan tidak serius tentang penderitaan, ketimbang pengakuan jujur bahwa ini memang masalah serius. banyak usaha para teolog untuk menjelaskan “penderitaan” terasa dangkal, seolah mereka menutup mata pada kenyataan. Seolah-olah Tuhan hanya diam, tidak mencegah penderitaan yang sebenarnya bisa dihindari dengan sedikit perubahan dalam cara manusia diciptakan.
Kalau kita menyepelekan masalah kejahatan dan penderitaan, berarti kita sedang kehilangan rasa moral yang paling dasar. Itu menunjukkan betapa keyakinan bisa merusak kepekaan moral kita. Ketika seseorang bisa menertawakan penderitaan hewan atau mengabaikan orang yang berdebat dengan pertanyaan tentang penderitaan, itu tanda bahwa moralitasnya sudah tumpul.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar